mungkin ini berita basi.. tapi berhubung minggu kemaren gw terkapar dihajar radang tenggorokan (dan baru bisa agak bandel lagi sekarang ini), jadi gw baru posting sekarang...
Tapi karena gw terkapar kemaren itulah gw akhirnya melakukan hal yg jarang gw kerjain, TV surfing.. dan gak sengaja pas hari Sabtu - Minggu kemaren, di Global TV, nemuin kalo Voltus udah disiarin di TV.. HORE..... !!!!
Mudah2an next time bakal disiarin juga Godsigma ama GoShogun.. hehehehee....
Wednesday, October 15, 2008
Friday, October 03, 2008
Pengemis...?
Waktu lebaran hari pertama kemaren, gw ngeliat hal yang menurut gw luar biasa.
Kejadiannya pas di perempatan Republika, pejaten. Kebetulan gw kena lampu merah paling depan, dan karena masih cukup pagi, mobil yang berenti juga masih jarang. Nah, kebetulan di samping mobil gw ada juga satu mobil laen yang berenti... Nah, di pintu mobil itu, ada seorang ibu-ibu pengemis yang minta ke mobil itu... sama si bapak pengemudi mobil itu, diberilah si ibu beberapa keping uang logam... Next thing I saw.. si ibu pengemis tersebut ngembaliin uang sedekah dari si pengemudi mobil....
Hah...!!!! Sudah segitu 'sombong'nya kah pengemis di Jakarta...? Bukan apa2... buat gw, berapapun uang yang diberikan oleh seseorang, kalau anda menjadi pengemis, yang berarti mengharapkan belas kasihan orang lain, berapapun uang yang diterima adalah rezeki yang harus disyukuri... Dengan mengembalikan uang itu, berarti dia udah nolak rezeki... Sorry kalo gw kedengaran seperti orang sombong... tapi kenyataannya kan gitu....
Gw terus terang sekarang semakin 'ill-feel' sama pengemis2 di pinggir jalan. Kriteria pengemis yang bakal gw kasih, kalau kebetulan gw lagi berbaik hati, semakin sempit... Gw cuman bakal ngasih ke orang yang sudah sangat jompo, orang cacat yang menurut penilaian gw (yang masih subjektif) emang bener2 udah gak mungkin nyari kerja lagi. Sama kalo naek bus, cuman para pengamen yang memiliki suara yang menghibur, tidak hanya sekedar bersuara.
Ibu-ibu yang ngegendong bayi.... NOPE, bayinya sewaan dan termasuk 'child abuse'. Anak kecil ngamen, NOPE, eksploitasi anak, menjauhkan mereka dari sekolah dengan memberi impresi kepada mereka bahwa mencari uang di jalanan itu gampang. Sekeluarga 'gelandangan' yang keliling kota dengan meletakkan anaknya di gerobak... NOPE, family abuse, organized poverty exploitation, cuman 'miskin' musiman. Dan kemungkinan list ini akan semakin panjang dengan semakin seringnya gw beredar di jalan-jalan Jakarta.
Terus terang, hal-hal kaya' gini yang bikin hati gw makin 'dingin'. Gw jadi mikir, hal-hal kaya' gini emang udah harusnya pemerintah/lembaga-lembaga sosial lebih aktif. Tapi.. gw mikir lagi sekarang, semua jalan/rencana sebagus apapun gak bakal jalan kalo 'kemiskinan moral' masyarakat kita gak bisa diilangin....
Kasiaaaannnn deeeehhhh..... Jakarta/Indonesia...!!!
Kejadiannya pas di perempatan Republika, pejaten. Kebetulan gw kena lampu merah paling depan, dan karena masih cukup pagi, mobil yang berenti juga masih jarang. Nah, kebetulan di samping mobil gw ada juga satu mobil laen yang berenti... Nah, di pintu mobil itu, ada seorang ibu-ibu pengemis yang minta ke mobil itu... sama si bapak pengemudi mobil itu, diberilah si ibu beberapa keping uang logam... Next thing I saw.. si ibu pengemis tersebut ngembaliin uang sedekah dari si pengemudi mobil....
Hah...!!!! Sudah segitu 'sombong'nya kah pengemis di Jakarta...? Bukan apa2... buat gw, berapapun uang yang diberikan oleh seseorang, kalau anda menjadi pengemis, yang berarti mengharapkan belas kasihan orang lain, berapapun uang yang diterima adalah rezeki yang harus disyukuri... Dengan mengembalikan uang itu, berarti dia udah nolak rezeki... Sorry kalo gw kedengaran seperti orang sombong... tapi kenyataannya kan gitu....
Gw terus terang sekarang semakin 'ill-feel' sama pengemis2 di pinggir jalan. Kriteria pengemis yang bakal gw kasih, kalau kebetulan gw lagi berbaik hati, semakin sempit... Gw cuman bakal ngasih ke orang yang sudah sangat jompo, orang cacat yang menurut penilaian gw (yang masih subjektif) emang bener2 udah gak mungkin nyari kerja lagi. Sama kalo naek bus, cuman para pengamen yang memiliki suara yang menghibur, tidak hanya sekedar bersuara.
Ibu-ibu yang ngegendong bayi.... NOPE, bayinya sewaan dan termasuk 'child abuse'. Anak kecil ngamen, NOPE, eksploitasi anak, menjauhkan mereka dari sekolah dengan memberi impresi kepada mereka bahwa mencari uang di jalanan itu gampang. Sekeluarga 'gelandangan' yang keliling kota dengan meletakkan anaknya di gerobak... NOPE, family abuse, organized poverty exploitation, cuman 'miskin' musiman. Dan kemungkinan list ini akan semakin panjang dengan semakin seringnya gw beredar di jalan-jalan Jakarta.
Terus terang, hal-hal kaya' gini yang bikin hati gw makin 'dingin'. Gw jadi mikir, hal-hal kaya' gini emang udah harusnya pemerintah/lembaga-lembaga sosial lebih aktif. Tapi.. gw mikir lagi sekarang, semua jalan/rencana sebagus apapun gak bakal jalan kalo 'kemiskinan moral' masyarakat kita gak bisa diilangin....
Kasiaaaannnn deeeehhhh..... Jakarta/Indonesia...!!!
Wednesday, September 10, 2008
Tawaran hutang...
Entah kenapa, begitu gw cabs dari kantor gw yang lama, tawaran untuk ngutang malah dateng bertubi2... entah dalam bentuk kartu kredit, atawa dalam bentuk pinjaman tanpa bunga...
Tapi untungnya, dalam kondisi gw sekarang ini, gw gak perlu susah-susah untuk nolak mereka. Tinggal bilang, "wah mas/mbak/pak/bu, saya baru aja keluar dari kerjaan yang lama, dan sekarang lagi nyari lagi", mereka dengan sesopan-sopannya berusaha menyelesaikan pembicaraan.. hahahaaaa.......
Tapi untungnya, dalam kondisi gw sekarang ini, gw gak perlu susah-susah untuk nolak mereka. Tinggal bilang, "wah mas/mbak/pak/bu, saya baru aja keluar dari kerjaan yang lama, dan sekarang lagi nyari lagi", mereka dengan sesopan-sopannya berusaha menyelesaikan pembicaraan.. hahahaaaa.......
Thursday, August 21, 2008
Boss yang 'baik'...?
Sekitar dua hari yang lalu, gw dapet telpon dari salah satu mantan anak buah gw di tengah hutan sana... Kata pembuka dari dia adalah... 'Mas, lagi sibuk gak.. mo curhat nih...'.
Sedikit cerita latar belakang, anak buah gw ini, ternyata setelah 'keberangkatan' gw dari site, diangkat sama mantan bos gw jadi koordinator lapangan untuk temen2nya sesama teknisi dan juga pencatat meter pemakaian produk. Dan karena dia juga termasuk jago ngutak-ngutik komputer, kebagian beberapa tugas data processing dan reporting yang kemaren gw monopoli.
Balik ke curhat mantan anak buah gw itu... Ternyata beberapa minggu yang lalu, salah satu anggota kru pencatat meter ada yang sakit cukup parah dan tidak bisa masuk untuk waktu yang cukup lama. Karena tuntutan pekerjaan dan kontrak, maka jadwal kerja anggota yang sakit tersebut digantikan oleh rekan2nya yang lain, dan karena bekerja di luar jadwal yang seharusnya, secara otomatis mereka mendapat uang lembur/Overtime. Hal ini tentu saja mengakibatkan membesarnya biaya tenaga kerja, walau ini juga termasuk resiko mempekerjakan orang berdasarkan kontrak, dan kerja shift2an.
Yang menjadi masalah buat mantan anak buah gw, ternyata beberapa saat sebelum dia nelpon gw, dia baru saja dapat instruksi dari mantan bos gw, untuk ngomong/negosiasi/diskusi/whatever lah sama pencatat meter yang lain yang dapat jatah lembur dan juga perusahaan penyalur tenaga kerjanya, supaya mereka mau jatah pembayaran overtime mereka diperkecil, karena perusahaan (?) agak keberatan membayar lembur mereka. Argumen yang dipakai sama mantan bos gw ke mantan anak buah gw itu adalah 'Coba kamu berpikir sebagai management...' Mantan anak buah gw itu langsung menolak mentah2 order tsb, dan kaya'nya nelpon gw untuk dapet dukungan moral... (cie.....)
Anyway, terus terang gw kaget denger bos gw ngasih perintah seperti itu. Maaf aja, tapi gw masih nganggep apa yang tertulis di kontrak adalah janji kita yang harus dipenuhi, dan kontrak kerja perusahaan juga termasuk besar gaji/bayaran yang harus diterima untuk jumlah X pekerjaan yang diberikan. Kalau mau ada perubahan, harus dibicarakan di depan, sehingga masing2 pihak bisa nolak kalo gak setuju/negosisasi. Kalo kaya' gini, nggak fair banget dong... Kalo mau, jangan cuman ngurangin nilai lembur, tapi juga harus rombak total semua kontrak yang ada.
Gw gak tau apakah perintah ini murni merupakan 'request' dari kantor Jakarta, ato cuman inisiatif gila mantan bos gw. Kalo request dari kantor Jakarta, terus terang gw gak yakin, soalnya sebagai MNC, setau gw mereka emang bener2 ngindarin buat masalah yang mempunyai potensi dibuat ribut2 di pengadilan, dan soal gaji ini adalah salah satu soal yang termasuk sensitif... Tapi kalo emang bener... wah, artinya kantor Jakarta udah mulai mendekati masa akhir riwayatnya...
Tapi terus terang, gw punya kecurigaan kalo ini adalah ide gila dari mantan bos gw, apalagi gw punya beberapa pengalaman yang kurang simpatik dengan bos gw ini, apalagi dengan kecenderungan do'i untuk terlalu cepat mengambil tindakan/perintah tanpa mengetahui latar belakang persoalan dan suka CM.
Dan yang buat gw lebih prihatin, siapa pun yang punya gagasan untuk ngurangin jatah lembur para pencatat meter itu, sebagai seorang manajer, pantaskah dia untuk menekan rejeki orang lain, apalagi sesama WNI, hanya untuk menyenangkan bos2nya, yang cuman tau keadaan perusahaan dari laporan keuangan/produksi saja...?
Mudah2an ini cuman contoh kelakuan 'oknum' manajer di Indonesia. Tapi kalo sebagian besar manajer di Indonesia spt ini, gak heran kalo Indonesia gak bakal maju2...
PS: Kalo bapak yang pernah menjadi bos saya sempet baca ini, silahkan memberikan sanggahan di comment, ato kalau mau diskusi langsung juga hayo....
Sedikit cerita latar belakang, anak buah gw ini, ternyata setelah 'keberangkatan' gw dari site, diangkat sama mantan bos gw jadi koordinator lapangan untuk temen2nya sesama teknisi dan juga pencatat meter pemakaian produk. Dan karena dia juga termasuk jago ngutak-ngutik komputer, kebagian beberapa tugas data processing dan reporting yang kemaren gw monopoli.
Balik ke curhat mantan anak buah gw itu... Ternyata beberapa minggu yang lalu, salah satu anggota kru pencatat meter ada yang sakit cukup parah dan tidak bisa masuk untuk waktu yang cukup lama. Karena tuntutan pekerjaan dan kontrak, maka jadwal kerja anggota yang sakit tersebut digantikan oleh rekan2nya yang lain, dan karena bekerja di luar jadwal yang seharusnya, secara otomatis mereka mendapat uang lembur/Overtime. Hal ini tentu saja mengakibatkan membesarnya biaya tenaga kerja, walau ini juga termasuk resiko mempekerjakan orang berdasarkan kontrak, dan kerja shift2an.
Yang menjadi masalah buat mantan anak buah gw, ternyata beberapa saat sebelum dia nelpon gw, dia baru saja dapat instruksi dari mantan bos gw, untuk ngomong/negosiasi/diskusi/whatever lah sama pencatat meter yang lain yang dapat jatah lembur dan juga perusahaan penyalur tenaga kerjanya, supaya mereka mau jatah pembayaran overtime mereka diperkecil, karena perusahaan (?) agak keberatan membayar lembur mereka. Argumen yang dipakai sama mantan bos gw ke mantan anak buah gw itu adalah 'Coba kamu berpikir sebagai management...' Mantan anak buah gw itu langsung menolak mentah2 order tsb, dan kaya'nya nelpon gw untuk dapet dukungan moral... (cie.....)
Anyway, terus terang gw kaget denger bos gw ngasih perintah seperti itu. Maaf aja, tapi gw masih nganggep apa yang tertulis di kontrak adalah janji kita yang harus dipenuhi, dan kontrak kerja perusahaan juga termasuk besar gaji/bayaran yang harus diterima untuk jumlah X pekerjaan yang diberikan. Kalau mau ada perubahan, harus dibicarakan di depan, sehingga masing2 pihak bisa nolak kalo gak setuju/negosisasi. Kalo kaya' gini, nggak fair banget dong... Kalo mau, jangan cuman ngurangin nilai lembur, tapi juga harus rombak total semua kontrak yang ada.
Gw gak tau apakah perintah ini murni merupakan 'request' dari kantor Jakarta, ato cuman inisiatif gila mantan bos gw. Kalo request dari kantor Jakarta, terus terang gw gak yakin, soalnya sebagai MNC, setau gw mereka emang bener2 ngindarin buat masalah yang mempunyai potensi dibuat ribut2 di pengadilan, dan soal gaji ini adalah salah satu soal yang termasuk sensitif... Tapi kalo emang bener... wah, artinya kantor Jakarta udah mulai mendekati masa akhir riwayatnya...
Tapi terus terang, gw punya kecurigaan kalo ini adalah ide gila dari mantan bos gw, apalagi gw punya beberapa pengalaman yang kurang simpatik dengan bos gw ini, apalagi dengan kecenderungan do'i untuk terlalu cepat mengambil tindakan/perintah tanpa mengetahui latar belakang persoalan dan suka CM.
Dan yang buat gw lebih prihatin, siapa pun yang punya gagasan untuk ngurangin jatah lembur para pencatat meter itu, sebagai seorang manajer, pantaskah dia untuk menekan rejeki orang lain, apalagi sesama WNI, hanya untuk menyenangkan bos2nya, yang cuman tau keadaan perusahaan dari laporan keuangan/produksi saja...?
Mudah2an ini cuman contoh kelakuan 'oknum' manajer di Indonesia. Tapi kalo sebagian besar manajer di Indonesia spt ini, gak heran kalo Indonesia gak bakal maju2...
PS: Kalo bapak yang pernah menjadi bos saya sempet baca ini, silahkan memberikan sanggahan di comment, ato kalau mau diskusi langsung juga hayo....
Monday, August 18, 2008
Tidak ada 17-an...
Tahun ini tidak seperti biasanya, di depan rumah gw gak ada perayaan 17-an. Setelah tanya sana-sini, ternyata penyebabnay adalah dikarenakeun tahun ini RT gw gak ngadain perayaan 17 Agustusan sama sekali... dikarenakan lebih dalam soalnya RT gw lagi ribut sama beberapa 'pemuka' masyarakat di kampung gw....
Akhirnya, politik di tingkat bawah pun makan korban kegembiraan anak-anak singkong di RT gw...
Akhirnya, politik di tingkat bawah pun makan korban kegembiraan anak-anak singkong di RT gw...

Subscribe to:
Posts (Atom)